Ngaji Hikam Bersama KH Miftachul Akhyar: Allah yang Menciptakan Keberhasilan, Manusia Hanya Berikhtiar

KH Miftachul Akhyar menjelaskan bahwa manusia tidak bisa menciptakan sebuah keberhasilan, Allah-lah yang menciptakan sebuah keberhasilan, sementara manusia hanya bisa berikhtiar. “Allah menjadikan sesuatu itu ya terserah Allah, kita ini tidak bisa menciptakan sebuah keberhasilan, kita hanya diberi kemampuan untuk berikhtiar,” dawuh beliau pada Ngaji Syarah Al-Hikam pertemuan ke-33 di Aula Ponpes Miftachus Sunnah Surabaya. Beliau mencontohkan penjual lombok (cabai) di pasar, sama kualitasnya, tetapi yang satu menjual dengan harga murah, yang kedua harganya lebih mahal. Akan tetapi justru yang mahal lebih laris. Menurut Kiai Miftach hal tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak bisa menciptakan lakunya sebuah barang.

“Ini bukti kalau manusia tidak bisa membuat sebuah keberhasilan, ikhtiar harus, berhasil Allah yang menentukan. Jadi kita ini hanya diberikan kemampuan berikhtiar, hasilnya Allah yang menentukan. Makanya hasilnya serahkan kepada Allah, karena Allah adalah dzat yang menentukan,” terang Kiai Miftach.

Lebih lanjut pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya tersebut menjelaskan bahwa Allah memberikan pelajaran dalam kehidupan, menata kehidupan sesuai dengan karakter manusia. Hal tersebut dikenal dengan sunnatullah. Kemudian Allah juga punya hak kebebasan untuk menciptakan sesuatu tanpa melalui sebab, tanpa hukum kausalitas.

“Dzat seperti inilah yang seharusnya kita ganduli, kita tawakali, kita pasrahi. Jangan percaya pada orang yang dirinya sendiri butuh kepercayaan. Jangan neko-neko, Allah yang akan mengatur. Banyak orang jadi wali karena dia nggak neko neko, karena menekuni pekerjaannya, ikhlas, tulus, apa kata Allah. Sebaliknya banyak orang yang menuruti nafsu, akhirnya malah jatuh, malah hancur hidupnya. Kita harus belajar taslim yaitu ikhtiar, hasilnya pasrahkan kepada Allah ” ungkapnya.

Beliau menjelaskan bahwa Imam Al-Qusyairi dalam kitab risalahnya menyatakan bahwa ikhtiar artinya memilih pasrah untuk apa yang ditentukan oleh Allah dan itu jauh lebih baik daripada melawan arus, melawan waktu. Misalnya waktu ngaji, tetapi malah ingin melawan arus, ngajinya ditinggal, malah akhirnya tidak bagus.

“Gusti Allah dzat yang maha kuasa, tidak pandang bulu, kalau sudah dikehendaki pasti terjadi. Kita jangan malah su’ul adab, kurang sudah diatur-atur. Sudah pasrah saja, yang penting kalian ada di track ilmu , dijalan yang sudah ditentukan, tidak goyang sana, tidak goyang sini” pungkasnya.