Rajab dan Kegamangan Dakwah Nabi di Tahun Duka Cita (Bagian 2)

By:Syam’s

الصلاة معراج المؤمنين
Shalat adalah “Mi’rajnya” setiap mu’min

Jika kita yang di-Isra’ Mi’rajkan oleh Tuhan, kemungkinan besar kita tidak ingin keluar dari Sidratul Muntaha dan turun kembali ke bumi, tidak demikian dengan manusia agung ini, setelah “mencapai makom” ini beliau kembali turun ke bumi, menjadi manusia biasa yang bersahaja, cara dakwahnya tidak aneh aneh yang bicaranya muter-muter rumit, mbulet sok pinter penuh teori ala Doktor filsafat agama keluaran kampus agama ternama, beliau tampil bersahaja (ummi) tapi dengan jiwa baru, kekuatan baru, jiwa sepenuh ketulusan, kemurnian dan ma’rifat yang sebenarnya kepada Allah, tidak seperti sebagian kita (bukan generalisir)🙏 yang sudah kadong mungkin merasa menjadi warotsatun nabi, penerus tugas dakwah para nabi, tapi dengan ma’rifat abal abal yang kadang atribut agama tidak menjadikan kita lebih merendah terhadap sesama, sebaliknya malah menjadi manusia-manusai aneh, angkuh, jumawa, merasa paling tinggi dan pintar, sombong melebihi iblis dan Fir’aun.

Shalat adalah sebuah proses ma’rifat dan rasa “menyatu” (Wushul) dengan Tuhan, sebuah maqom yang hanya bisa diperoleh bagi individu yang telah menempa diri secara keras (mujahadah yang dibarengi dengan muhasabah dan muroqobah) dengan takhalli (membuang sifat-sifat buruk diri), melewati tahalli (menggantinya dengan sifat positif), jiwa yang telah melewati berbagai penghalang bertemu dengan Tuhan berupa kekotoran, cacat dan berbagai aib diri, keangkuhan, kesombongan serta ego hingga mencapai puncaknya dengan kebersihan hatinya bisa whusul, rasa bersatu dengan Tuhan (ma’rifat).

Isra Mi’raj adalah sebuah perjalanan ruhani nabi melewati berbagai pengalaman ghaib, supranatural dan spiritual hingga menembus batas cakrawala terjauh yang bernama Sidratul Muntaha, sebuah tempat yang tak dapat dilampaui oleh semua mahluk termasuk para malaikat, hanya nabi ber-dua dengan Tuhan.

Isra Mi’raj adalah sebuah cara Allah untuk menghibur sekaligus menguatkan nabi dalam menjalankan misi dakwah Islam setelah nabi merasakan kebimbangan dan kegalauan ditinggal dua (2) orang penopang utama dakwahnya, penolakan, intimidasi dan terror yang semakin nyata pada saat umur agama ini masih seumur jagung (awal dakwah).

Dengan Isra Mi’raj nabi dihibur dan dikuatkan dengan pengalaman spiritual dan sensasional, mengalami langsung berbagai pengalaman ghaib menembus langit ke tujuh sampai puncaknya bertemu langsung dengan Tuhan di Sidratul Muntaha.

Perjalanan menebus lapisan lapisan langit bersama Jibril, bertemu seluruh nabi dan rosul yang adalah para saudaranya dalam misi dakwah, diperlihatkan berbagai fenomena ghaib, surga, neraka dan berbagai pengalaman serta realitas yang selama ini tak diketahuinya tentang hakekat dunia, tentang kehidupan, Tuhan, serta masa depan Islam.

Pada puncak perjalanan ghaib itu nabi mencapai moqom yang tak dapat dilalui oleh semua mahluk termasuk malaikat yaitu nabi bertemu, “melihat Tuhan” di Sidratul Muntaha.
Eksklusifnya maqom ini tergambar dari ungkapan malaikat Jibril;
“Wahai Muhammad kekasih Allah, aku hanya sampai di sini menemanimu, selangkah saja aku lewati maqom ini niscaya aku lebur, musnah dan terbakar, hanya kau yang mampu bertemu, berdua dengan Tuhan”

Dan pada titik ini nabi melihat wujud asli malaikat Jibril dan setelah berpisah dengan Jibril kemudian sang nabi seolah mengalami “Jazab”, nabi “tercerap” pada penyatuan dalam “Tajallinya Tuhan”, hanya dia berdua dengan Tuhan, beliau berkata;
Aku “melihat” Tuhan.
رأيت ربي تبارك وتعالي
عن أبي ذر قال: سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم: هل رأيت ربك؟ فقال: “نور، أنى أراه”.

Dengan demikian terbuka (ma’rifat) bagi nabi hakekat semua realitas rahasia kehidupan dan dunia termasuk masa depan dakwah dan tugasnya di permukaan bumi.

Pada puncak “penyatuan” dalam tajallinya Tuhan, nabi mendapat pesan utama;

  1. Kewajiban Shalat
  2. Penutup surah Al Baqoroh sebagai penegas kesatuan misi seluruh kenabian
  3. Jaminan ampunan dan masuk surga ummatnya selagi tidak berbuat syirik.

Tiga point di atas adalah sebuah “rahasia besar”, oleh2 nabi dari peristiwa Isra Mi’raj di mana kita bisa simpulkan:
1. Shalat adalah sebuah proses ma’rifat pendakian diri melewati berbagai penghalang kekotoran diri, keanggkuhan, kesombongan serta ego hingga mencapai puncaknya bisa whusul, rasa bersatu dengan Tuhan.
Karenanya mungkin tepat jika sebuah keterangan mengatakan
الصلاة معراج المؤمنين
“Shalat adalah “Mi’raj” setiap mu’min”

2. Ada kesatuan, kesamaan ikatan misi dakwah semua agama dan nabi yaitu ajakan untuk ber “Islam”, sikap penyerahan diri, kepasrahan serta ketaatan kepada Allah dan jangan musyrik di mana ini menjadi point ke-3 nya sekaligus garansi bagi ummat Muhammad

Setelah melalui berbagai pengalaman ghaib itu, menjelang pagi subuh nabi “kembali turun ke bumi” dan dengan tersenyum beliau membangunkan sang Istri tercinta untuk shalat subuh seraya berkata;
“Aku baru saja pulang dari perjalanan menakjubkan, mencerahkan dan menguatkan jiwaku untuk meneruskan perjuangan dakwah ini, sepenuh optimis Islam akan bersinar di permukaan bumi ini”.

Semoga shalat kita adalah Mi’rajnya kita, mi’rajnya setiap muslim untuk bertemu dengan Tuhan dan tampil menjadi manusia bersahaja yang mampu menjaga sikap, diri, lidah dan hati kita, menjadi maslahat, kebaikan untuk sesama, bukan sebaliknya.
Amiiin🤲
The End.

AkiSuwung

Note:
Tentang istilah melihat Tuhan terjadi debatable di kalangan mutakalimin, tapi di sini kita merujuk konsep Aswaja yaitu ta’wil sebagaimana yang diungkapkan Abi Dzar
رأيت نورا

🙏