Safari Ramadhan 1444H PCNU Kota Bekasi Hari Ke-7: Masjid Ta’liful Qulub MWCNU Mustikajaya

Wk. PCNU Ust M. Misbah Tirmidzi, S.Pd,. (sekaligus ketua panitia)
Koordinator tarling Ust Ali Asmawi (Sekertaris MWCNU Mustikajaya )
Penceramah : KH. Ayi Nurdin, S,Hi,.M.HI (Katib PCNU Kota Bekasi)

Silahturahmi antar umat islam khusunya umat ahlussunah waljamaah.

Umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu yaitu Ahlussunah Wal Jama’ah, sebagaimana termaktub dalam sabda sucinya:

“Sataftariqu Ummaty Ala Tsalatsin Wa Sab’ina Firqah, Fawahidatan Fil Jannah Wa Tsintani Wa Sab’una Fin Nar”. Qiila : “Man Hum Ya Rasulallah ?”, Qaala : “Ahlussunah Wal Jamaah”, dalam suatu riwayat “ Ma Ana Alahi Al-Yauma Wa Ashaby”. Umatku, kata Nabi, Akan berpecah belah menjadi 73 golongan, hanya satu yang akan masuk Surga, sementara yang 72 golongan akan masuk Neraka. Kemudian Para Sahabat bertanya ”Siapa yang akan masuk Surga itu Ya Rasulullah?”, Yaitu, jawab Nabi Ahlussunah Wal Jama’ah.

Aswaja adalah golongan yang tetap dan tidak menyimpang dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya, Golongan ini satu pendapat di dalam masalah aqidah(ushuluddien) dan hanya sedikit terdapat perbedaan dalam hal syari’ah(fiqh/ furu’uddien), namun tidak terjadi saling menganggap fasiq dan sesat terhadap yang lain. Para ulama memberi batasan sederhana untuk memudahkan pengertian, bahwa Aswaja ialah golongan umat Islam yang dalam masalah aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (260- 324 H) dan Imam Abu Mansur Al- Maturidi (wafat : 333 H). Ini tidak berarti, bahwa kedua imam tersebut adalah yang menciptakan pertama kali ajaran aqidah Aswaja, namun kedua – duanya hanyalah mengkodifikasikanya sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW dan thariqoh para sahabat. Bahkan Al-asy’ari dalam hal ini banyak mendasarkan pada masalah – masalah aqidah yang telah dirumuskan oleh Imam Malik dan Imam Syafi’i.

Adapun didalam masalah syari’ah, Aswaja mengikuti rumusan yang telah dicetuskan oleh salah satu dari Imam Abu Hanifah (80 – 150 H), Imam Malik (91 –179 H), Imam Syafi’I (150 – 204H), dan Imam Ahmad Bin Hanbal (164 – 241), keempat Imam itu didalam berijtihad menyimpulkan hukum-hukum menggunakan dalil-dalil dari Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas.

Kenapa mengikuti salah satu dari keempat imam tersebut?, sebagaimana dikatakan oleh Imam Sholeh, karena hanya empat imam tersebut yang ajaranya dikodifikasikan secara utuh dan lengkap serta di riwayatkan secara berturut-turut dengan silsilah sanad yang langsung sampai kepada ulama muta’akhirin.

Sementara dalam masalah tasawuf (ahlak) mengikuti antara lain Imam Al –Junaid Al- Baghdadi, Imam Al- Ghazali dan Imam-imam lain yang masih dalam satu sistem pemikiran seperti Imam Abdul Qadir Al – Jailani, Imam Syuhrowardi, Imam Ma’ruf Al – Kharkhi, Imam Bahauddin Al- Naqsabandi dan lain- lain.

Adapun tentang perkembangan Aswaja di Indonesia, kiranya dapat dilihat dari sudut pengamalan ajaran Islam oleh masyarakat Indonesia terutama di pulau jawa. Kalau diamati secara lebih jauh, dapat diduga bahwa ajaran Aswaja sudah cukup lama berkembang di Indonesia, bahkan bersamaan dengan masuknya Islam di Indonesia. Para Wali penyebar Islam di Indonesia menunjukkan adalah penganut setia Aswaja, yang dilanjutkan oleh para ulama –semisal, KH. Nawawi Al-Bantani (1813 –1897), KH. Khotib Minangkabau dan ulama-ulama pesantren menjelang abad ke 19 sampai sekarang, semuanya dalam pengembangan ajaran Aswaja di Indonesia mempunyai andil yang cukup besar.

Rumusan Aswaja ini dapat diperinci lagi bahwa dalam memahami agama dari sumber-sumbernya para pengikut Aswaja, terutama NU sebagai suatu ihtiar untuk membentuk kepribadian Bangsa yang bersifat suni menggunakan pendekatan atau sikap yang populis yakni sikap yang menjaga nilai nilai lama yang masih baik sembari mengambil tradisi yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan, Al- Mukhafadhatu Alal Qadimis Shalih Wa Al- Akhdhu Bil Jadidil Ashlah, yakni sikap yang : Tawasuth (moderat, tidak ekstrim kanan ataupun kiri,Adamuth Thathorruf), I’tidal( selaras, adil), Tasamuh (toleran), Tawazun ( seimbang antara urusan dunyawi dan ukhrowi), dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (fungsi kontrol, korektif, saran dan kritik).

Dalam sikap tawasuth diharapkan menjadi umat atau kelompok yang menjadi panutan, bertindak lurus, adil dan selalu menghindari sikap ekstrim (tatharruf). Dengan tasamuh diharapkan menyadari kehidupan yang heterogen, menyadari perbedaan (ihtilaf) dalam hal apaun sebagai suatu keniscayaan dan sunatullah. Dengan Tawazun, diharapkan menjadi kelompok yang memiliki keseimbangan, baik dalam pengabdiaan kepada Allah, manusia dan lingkungannya, serta pandai menyelaraskan kepentingan masa lalu, kini dan yang akan datang, Ini berarti menghargai sejarah dan berwawasan kedepan. Sementara Amar Ma’ruf Nahi Munkar, membuktikan perlunya kepekaan sosial, untuk memotivasi perbuatan baik dan mencegah semua bentuk kejahatan atau hal-hal yang menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Sikap-sikap diatas merupakan nilai-nilai yang ditawarkan oleh NU kepada Bangsa Indonesia agar mampu hidup ditengah-tengah gempuran globalisasi – westernisasi, dan tetap hidup dalam bingkai Aswaja, melalui penegakan ahlakul karimah dengan penuh rasa persahabatan, baik Islamiyah Wathaniyah maupun Basyariyah sebagai mana misi utama kerasulan Muhamad SAW sebagai rahmat sekalian alam, Rahmatan Lil ‘Alamin.

Turut hadir :

  1. KH. Rohidi (Wakil Katib PCNU Kota Bekasi)
  2. KH. Adi Hasan (Rais Syuriah MWCNU Mustikajaya)
  3. Ust Daud Sulaeman (Ketua MWCNU Mustikajaya)
  4. H. Sudjatmiko, ST,. (Dewan Pembina HPN Kota Bekasi) sekaligus pemenang santri inspiratif bidang enterpreneur 2022.
    5.Muhammad Sunaryadi, S.E (Lurah Mustikajaya)
  5. Ust Jaeni Ismail, SE (Lazisnu Kota Bekasi)
  6. Panitia safari ramadhan (Ust. Iming Satimin, K.Rozi, Wildan Fathur, Prasetyo, Ujang Nurul H)
  7. Ust Zulfikar (Wakil Ketua MWCNU Musyikajaya)
  8. Ust. Dadirin (Bendahara MWCNU Mustikajaya)
  9. Ranting se-Rawalumbu
  10. Ust Aditya Nugroho (LD MWCNU Mustikajaya & Banom (Lala, Candra, Nanang, Fian)