Untung Tanpa “buntung”: Kajian Surah At-Taubah : 20-22

Oleh : M. Bachtiar Efendi S.Th.I, MA.

الَّذِيْنَ اَمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللهِ اُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُوْنَ. يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيْهَا نَعِيْمٌ مُقِيْمٌ. خَالِدِيْنَ فِيْهَا اَبَدًا إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيْمٌ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah swt. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh keberuntungan. Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridhaan dan surga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, di sisi Allah swt. terdapat pahala yang besar.” QS. At-Taubah: 20-22.

Setiap insan selalu berharap menjadi bagian dari orang-orang beruntung, yakni bebas dari segala macam susah dan siksa yang tidak berujung. Ironisnya, kebanyakan dari manusia justru sekedar berharap akan hal tersebut dan enggan bersungguh-sungguh menggapainya. Padahal banyak cara yang diajarkan oleh Allah swt. kepada makhluk melalui firman-Nya dan sabda Nabi-Nya agar hamba-hamba-Nya dapat meraih keberuntungan sesungguhnya.

Kata untung tidak dapat lepas dari hasil usaha yang dilakukan oleh seseorang, sehingga muncullah kesimpulan bahwa ada manusia yang mendapat untung sesaat dan selainnya ialah orang-orang yang memperoleh untung selama-lamanya. Mereka yang tergolong sebagai kelompok yang pertama (untung sesaat) sesungguhnya belum memperoleh keuntungan hakiki, karena bisa jadi keesokan harinya mengalami kebangkrutan. Adapun kelompok kedua (untung selama-lamanya), sudah barang tentu tidak akan mendapati keadaan yang disebut bangkrut. 

Orang-orang yang beramal namun tanpa didasari oleh iman ialah kelompok yang bangkrut, sebaliknya yakni beriman namun tidak beramal juga masuk dalam golongan yang tidak untung. Oleh sebab itu, maka setiap orang hendaklah beriman dan beramal semasa berada di dunia hingga benar-benar memperoleh keuntungan. 

Di dalam QS. At-Taubah: 20-22, Allah swt. menerangkan kepada setiap makhluk bahwa siapa saja yang beriman kemudian mereka buktikan keimanannya dengan berkenan untuk hijrah dan jihad di jalan Allah swt. dan Rasul-Nya menggunakan harta dan jiwa pastilah mendapat keberuntungan yang abadi dari-Nya.

IMAN

Di dalam kitab Qomi’ut Thughyan karya Seikh Imam Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi dinyatakan bahwa iman memiliki 77 cabang, antara lain yaitu percaya kepada Allah swt., malaikat, para nabi, kitab-kitab Allah swt., hancurnya alam (kiamat), kebangkitan manusia dari kematian, takdir, dikumpulkannya makhluk di Mahsyar, surga, neraka, cinta kepada Allah swt., takut kepada siksa Allah swt., mengharap rahmat Allah swt., berserah diri kepada Allah swt., dan lain sebagainya. Adapun puncak dari kesemua hal tersebut adalah meyakini secara kokoh tentang keberadaan Allah swt. sebagai Pencipta segala apa saja yang tampak maupun tersembunyi dan Dia ialah Dzat yang berhak untuk disembah, tidak ada yang dapat menyamainya dengan suatu apapun. Maka jadikanlah Allah swt. sebagai satu-satunya tujuan dalam beribadah. 

Kedudukan seorang yang memiliki iman lebih tinggi dari orang-orang yang disebut sebagai penganut agama Islam. Sebagaimana dinyatakan di dalam al-Quran:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوْا وَلَكِنْ قُوْلُوْا أَسْلَمْنَا

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, “Kami telah tunduk (Islam)”. (QS. Al-Hujuraat: 14).

Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad didalam kitab Risalatul Mu’awanah menjelaskan bahwa sebab-sebab teguhnya keimanan seseorang ialah dengan 3 (tiga) perkara:

  1. Memperhatikan dengan hati dan mendengarkan dengan telinga akan ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi saw. yang menunjukkan Kebesaran Allah swt., Kesempurnaan-Nya, Keagungan dan Kehebatan-Nya, Kemanunggalan-Nya dalam Menciptakan segala sesuatu, Memerintah, Menguasai, dan Memaksa. Selain dari itu bahwa Allah swt. ialah Dzat yang Menunjukkan kepada kebenaran para rasul dan kesempurnaan mereka, mukjizat-mukjizat yang mereka tunjukkan, azab yang menimpa orang-orang yang menentang mereka, serta berita-berita hari kiamat yang berhubungan dengan pahala yang disediakan bagi orang-orang yang baik dan hukuman bagi orang-orang yang jahat.

اَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّــآ أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu al-Quran, sedang dia dibacakan kepada mereka?” (QS. Al-Ankabut: 51)

  1. Memperhatikan segala ciptaan Allah swt. yang indah dan menakjubkan baik yang ada di langit maupun bumi. Firman Allah swt. :

سَنُرِيْهِمْ آءيَاتِنَا فِي الْأَفَاقِ وَفِي اَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّ

Kami akan memberitahukan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di beberapa daerah dan (kekuasaan) yang ada pada pribadi mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Allah swt. adalah benar.”

  1. Bersungguh-sungguh dalam mengerjakan segala amalan dan tetap didasari iman dan takwa. Firman Allah swt. : 

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami. Niscaya akan Kami tunjukkan pada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

HIJRAH

Esensi dari hijrah ialah berpindah menuju lebih baik. Seseorang dapat disebut muhajir (orang berhijrah) apabila ia telah menunjukkan kesungguhannya baik dengan sikap maupun ucapan untuk meninggalkan lingkungan atau kebiasaan buruk dan menggantinya dengan harapan mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Rasulullah saw. bersabda:

الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَانَهَاهُ اللهُ عَنْهُ

“Orang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah swt.”

Bagi seseorang yang berhijrah, maka perhatikanlah beberapa hal berikut, yaitu:

  1. Berniatlah hanya untuk memperoleh keridhaan Allah swt., sesungguhnya mereka yang menjadikan-Nya sebagai tujuan dalam setiap tindakan, niscaya jalan menuju kebaikan pastilah ditunjukkan oleh-Nya.
  2. Pilihlah lingkungan yang baik, yaitu tempat yang dapat membantu setiap individu menjadi semakin mudah memahami ilmu-ilmu Allah swt.
  3. Jadikanlah orang-orang yang berilmu dan beradab sebagai teman duduk dalam keseharian. Melalui nasihat dan keteladanan mereka, pribadi yang lemah menjadi kuat, hati yang rapuh menjadi tegar, dan keinginan negative menjadi positif sehingga muncullah harapan baru yang lebih baik.
  4. Merubah kebiasaan berpakaian, cara makan dan minum serta makanan dan minuman yang dikonsumsi, tidur, berjalan dan lain sebagainya. Karena dengan mempertahankan kebiasaan masa sebelumnya setiap individu sulit menemukan “jalan” baru.

JIHAD

Salah satu bagian dari amar ma’ruf nahi munkar ialah jihad fi sabilillah (berjuang dijalan Allah swt.). Dikarenakan perintah yang terkandung didalamnya sehubungan dengan kebaikan yang paling tinggi, yaitu mengajak manusia meng-Esa kan Allah swt. dan menyeru seseorang untuk menjadi muslim secara menyeluruh. Sedangkan larangannya adalah menjauhkan seseorang dari segala perilaku keji dan dosa.

Rasulullah saw. bersabda:

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ هَوَاهُ

“Orang berjihad adalah seseorang yang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu.”

Dalam hadits lain, Rasulullah saw. juga menyatakan:

رَجَعْتُمْ مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ جِهَادُ النَّفْسِ

“Kalian telah kembali dari jihad kecil menuju jihad besar, yaitu jihad terhadap hawa nafsu.”

Setiap waktu dan dimanapun seseorang berada, peluang untuk berjihad terbuka sepanjang masa. Mengingat dalam diri setiap manusia terdapat hawa nafsu yang selalu melekat erat. 

Seorang tokoh tashawuf, hujjatul Islam al-Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali menjelaskan bahwa ada tiga tingkatan nafsu dalam diri, yaitu:

  1. An-Nafs al-Ammarah bis suu’, yaitu nafsu yang cenderung kepada karakter-karakter biologis, condong pada kenikmatan-kenikmatan yang dilarang oleh agama karena menarik hati kepada derajat yang hina.
  2. An-Nafs al-Lawwamah, yaitu nafsu yang menarik diri seseorang untuk berbuat baik dan buruk. Nafsu ini juga dapat mendorong diri untuk menyesali perbuatan tidak baik yang telah dikerjakan oleh makhluk.
  3. An-Nafs al-Muthmainnah, yaitu nafsu tertinggi yang dimiliki seseorang karena pada tingkatan ini manusia sudah terbebas dari perilaku hina dan penuh dengan cahaya Ilahiyah

Seseorang dapat berjihad menggunakan harta dan jiwanya dengan rela berbagi kebaikan dan kebahagiaan kepada orang-orang yang saat ini masih membutuhkan pendidikan, peningkatan ekonomi, dan perubahan sosial.

Tiga (3) kelompok tersebut merupakan orang-orang yang memperoleh keuntungan hakiki dari Allah swt., baik secara duniawi terlebih ukhrawi. Maka memohonlah kepada Dzat yang Maha Kuasa agar kita dapat menjadi bagian darinya.

Wallahu a’lam